Tampilkan postingan dengan label mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mind. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2016

1 SYAWAL 1437 H

Saudara-saudaraku

Puluhan Ramadhan telah kita lalui bersama,
Dari setiap Ramadhan, dari setiap Idul Fitri,
Kita selalu berusaha untuk terus bersama,
Saling memberi, saling menerima, dan saling memaafkan.

Semoga berkah Ramadhan tercurah untuk kita semua, dan
Kembali suci dihari kemenangan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H
Mohon maaf lahir dan batin.


I love You My Sisters and Brothers

Rabu, 18 Maret 2009

Asuransi Tilang Lalu Lintas (Kenyataan Kedua)

Kenyataan kedua, obrolan semakin menarik bagi saya, dan saya bertanya lebih jauh, mengenai pendapatan sopir angkot (kaya-nya sensitif ya?,… tapi nggak koq, tetap santai saja sambil memberikan minuman ke farhan).
Kebetulan angkot itu termasuk jenis angkot sewa/setoran. Artinya mobil angkotnya bukan milik pribadi sopirnya, sehingga setiap hari sopir angkot harus menyetor kepada pemilik angkot sebesar Rp. 120.000,-, dengan waktu narik (istilah sopir angkot) dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Saya tidak tahu, apakah itu termasuk besar atau kecil, atau mungkin sesuai, saya tidak tahu. Lanjut….Dengan waktu narik seperti itu membutuhkan bensin sekitar 12 liter sehari, minimal!!! Jadi untuk bensin membutuhkan biaya sebesar 12 ltr X Rp 4500,- = Rp 54.000,- (pengalinya 4500 rupiah, soalnya saya nggak nanya berapa harga bensin untuk angkot, pada kali aja pake subsidi..). Dengan demikian, pengeluaran tetap sopir angkot dalam sehari adalah Rp 10.500,- + Rp 120.000,- + Rp 54.000,- = Rp 184.500,- (saya juga tidak menanyakan uang makan dalam sehari.. ;p). Sekali lagi saya juga tidak tahu apakah jumlah ini besar atau kecil atau mungkin sesuai, saya juga tidak tahu.
Menurut sopir angkot itu lagi, terkadang dalam sehari dan bukan hanya terjadi sekali atau dua kali dalam sebulan, penghasilan yang disetor ke sang istri adalah Rp 15.000,-. Dan kembali saya juga tidak tahu apakah jumlah ini besar atau kecil atau mungkin sesuai, saya juga tidak tahu.
Dari obrolan itu juga saya jadi tahu, bahwa dalam satu kali jalan (pergi, dan bukan pulang pergi), bisa terjadi hanya dapat 1 (satu) penumpang, itupun jarak dekat dan bayarnya Rp 1000,-.
Kembali obrolan mengenai anak sopir angkot yang sebentar lagi masuk sekolah, mau mencari pekerjaan lain yang lebih mapan, kena PHK waktu kerja sebagai sopir disebuah pabrik, saran untuk mencoba narik taksi, dan akhirnya “kiri ya bang, saya turun disini”…kata terakhir untuk obrolan dengan sopir angkot…”terima kasih ya bu”…salam perpisahan dari sopir angkot. Angkot berlalu, saya bahkan tidak hapal angkot itu dan juga tidak tahu nama sopir angkot itu, tapi saya sudah menghitung penghasilan dan mendengar curhat seorang sopir angkot.
Sungguh negeri tempat saya tinggal ini sangatlah unik, ada sekelompok pembesar dengan semua kekayaan dan harta yang dimiliki masih melakukan korupsi untuk mendapatkan tambahan demi hidup dan sesuap nasi, juga menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, . Ada juga kelompok masyarakat yang juga tetap hidup dengan penghasilan yang bahkan tidak sampai seperseribu dari penghasilan pembesar tapi juga bisa hidup, makan, dan menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi (dan ini juga kenyataan yang pernah saya temui, mungkin lain waktu akan saya bagi). Karena itulah saya juga tidak tahu apakah sejumlah rupiah itu besar atau kecil atau mungkin sesuai, saya juga tidak tahu.

Asuransi Tilang Lalu Lintas (Kenyataan Pertama)

Hari ini (Selasa, 17 Maret 2009), saya dan farhan pergi nabung, dan menggunakan jasa angkutan umum (angkot). Hari sangatlah panas, karena memang saya perginya jam 11.30 WIB, kebayangkan panasnya. Pulangnya ternyata saya naik angkot yang sama waktu pergi tadi, dan memilih duduk di depan, disamping pak supir. Untungnya farhan tidak rewel, jadi aman. Selama perjalanan sampai di rumah, saya mengetahui beberapa kenyataan.
Kenyataan pertama, sampai tiba disuatu tempat, sopir berhenti dan kemudian menyerahkan sejumlah uang ke pada seseorang yang memang sudah menunggu dan sepertinya pekerjaannya adalah menunggu angkot yang lewat dan menerima pembayaran. Pikiran saya pembayaran itu adalah sejenis arisan yang dibentuk oleh paguyuban sopir-sopir angkot (naif sekali ya…maklum ibu-ibu). Tapi dari pada mengira-ngira akhirnya saya bertanya ke sopir angkot mengenai pembayaran barusan yang dilakukannya, dan itu bukan hanya kali itu saya melihat yang hal seperti itu.
Pembayaran diberikan setiap hari dengan jumlah tertentu, yang sopir angkotnya pun nggak tahu mengapa pembayarannya sebesar itu. Mereka hanya mengikuti aturan saja (aturan mana??? Mungkin maksudnya aturan main). Ternyata pembayaran itu berguna kelak jika mobil angkot yang bersangkutan kena tilang dan SIM (Surat Ijin Mengemudi)-nya ditahan. Maksudnya pembayaran itu lah yang digunakan untuk membiayai pengurusan pengembalian surat-surat yang ditahan oleh petugas. Lalu yang terlintas dikepala saya adalah, ternyata bukan hanya jiwa, kesehatan ataupun pendidikan yang diasuransikan, tapi juga tilang kendaraan pun bisa diasuransikan….lalu black think saya membuat istilah “Asuransi Tilang Lalu Lintas”….Kreatif…
Pembayaran premi asuransi ini dilakukan dibeberapa tempat, yang menurut sopit angkot nya tergantung berapa daerah Polsek yang dilewati oleh trayek angkot tersebut. Kebetulan trayek angkot yang saya naiki waktu itu melewati 3 daerah Polsek. Kesimpulannya sopir angkot membayar premi di tiga tempat dan total pembayaran dalam satu hari pada 3 Polsek (itu istilah sopir angkot sendiri lho..) tersebut adalah Rp 10.500,-.
Saya sempat bertanya juga, kalo tidak membayar bagaimana, apakah ada paksaan dan berapa kali angkotnya ditilang dalam satu bulan?. Jawaban sopir angkotnya, bahkan dalam 3 bulan itu angkotnya belum tentu ditilang, dan ternyata pembayaran premi tidak ada paksaan, tapi sepertinya jika mereka tidak menyetor, biasanya mobilnya sering kena tilang (nah lo..). Karena ternyata juga, bukan nama sopir yang dicatat, tapi no polisi kendaraannya.

Rabu, 11 Februari 2009

...sakit gigi...vs...sakit hati...

Dua hari gigi ku sakit rasanya. Mungkin karena lubang yang terus mengerosi email gigiku. Menjelang umur ku 30 tahun ini, baru kali ini saya sakit gigi demikian hebat, karena seingatku seumur hidup baru 3 kali saya sakit gigi. Sakit gigi yang sekarang ini lah yang paling sakit. Tapi waktu saya coba tersenyum, masih bisa koq…kata orang kalo masih bisa senyum berarti sakitnya belum apa-apa. Ya ampun, gimana sakit gigi yang sesungguhnya…, ini saja sudah sakit sekali. Kuceritakan sedikit ya, apa yang kurasakan.

Awalnya terasa senut-senut dan ngilu. Lama-lama gusi terasa tebal dan pipi mengeras. Sakitnya tidak kontinu kadang sakit dan kadang hilang, seperti kejadian kontraksi waktu mau melahirkan. Waktu sakit nya datang gusi seperti ditusuk benda tumpul lalu rasa sakit itu menjalar keseluruh gigi, lalu seluruh rahang mulut, dan terus ditarik ke kepala hingga mencapai ubun-ubun. Aaaggghhhh……sakit sekali….

Mendengar fiqi menangis, gigi ku makin terasa ngilu dan sakitnya mencapai ubun-ubun dan mendesak mau keluar. Tapi saya juga tidak bisa marah, menggoyangkan rahang untuk bicara saja sudah sangat sulit, apalagi mau marah ataupun ngomel. Mata rasanya berair dan kepala juga tidak bisa diajak kompromi, namun begitu tidur pun juga susah.

Mungkin inilah yang membuat orang membuat perumpamaan lebih baik sakit hati dapripada sakit gigi.

Pagi harinya, sakitnya agak berkurang, maksudnya tidak kontinum lagi. Tapi tetap saja kalau muncul, sakitnya tetap terasa luar biasa. Akhirnya sama nenek anakku (baca: ibu mertua) disarankan dipijat, setelah dipijat memang rasanya agak berubah, rasa sakit tidak lagi sampai di kepala. Paling tidak tekanan di kepala berkurang.

Merasakan sakit gigi ini, akhirnya saya berpendapat

‘saya tidak memilih dua-dua nya, saya tidak mau sakit gigi dan saya juga tidak mau sakit hati’

Jumat, 16 Januari 2009

PRT …….. oh ……. PRT

(tulisan ini ditulis diakhir desember, tapi baru sempat diposting)
Setelah sekian lama tidak menulis di blog ku ini, akhirnya ada juga kesempatan.
Pembantu rumah tangga (PRT) identik dengan pendidikan rendah, kampungan, bodoh, dan selalu diperintah oleh majikan. Stereotip tentang pembantu ini menjadikan profesi PRT sebagai profesi rendahan yang tidak bermutu. Padahal sebagian besar orang-orang juga menyadari bahwa peran mereka sangat membantu kelancaran pekerjaan rumah tangga, bahkan salah satu pendukung bagi kaum wanita yang ingin berkarir diluar rumah. Seperti pengalaman yang saya alami ini.
Memang sudah satu bulan lebih ini dirumah tidak ada pembantu rumah tangga (PRT). Alhasil semua pekerjaan harus kutangani sendiri, mulai dari menyapu, mengepel, memasak, cuci pakaian, menyetrika, cuci piring, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Dengan 3 anak balita yang super aktif dan usaha penyelesaian disertasi, kondisi ini cukup membuat saya kalang kabut. Apalagi ditambah dengan kemampuan manajemen waktu yang sangat kurang.
Sudah sebulan lebih pula, kami mencari pembantu rumah tangga, yang tentu saja harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Hasilnya sampai saat ini adalah nihil.... 0 besar.
Dengan kondisi ini, saya belajar banyak. Saya beruntung bahwa dari kecil kami telah diajar pekerjaan rumah tangga, kebersihan, dan kerapihan, sehingga dalam mengerjakannya saya tidak mengalami kesulitan. Saya juga dapat menilai kualitas pekerjaan pembantu sebelumnya. Dan tentu saja, ternyata mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus rumah tangga sendiri adalah suatu hal yang menyenangkan. Namun saya juga menjadi sadar bahwa manajemen waktu saya sangat buruk sekali. Saya tidak dapat mengatur pekerjaan sehingga menjadi lebih efisien...... kasihan sekali!!!!
Dampak lain adalah fiqi (6 tahun) dan sasa (4 tahun) menjadi lebih mandiri dan mampu melakukan beberapa pekerjaan dalam membantu saya mengurus rumah tangga. Mereka bisa mengurus sendiri barang-barang pirbadinya, mulai dari mandi, berpakaian, memperbaiki kamar dan tempat tidur, makan, dan juga merapikan mainan. Bahkan mereka membantu menyapu, cuci piring, dan membeli beberapa kebutuhan di warung. Walaupun agak sulit memotivasi mereka untuk mengerjakan hal tersebut. Sekarang ini mereka menjadi lebih bertanggung jawab.
Hanya ada hal yang akhirnya tertunda dan tak sangat sulit ku kerjakan adalah menyelesaikan disertasi untuk mendapatkan gelar doktor-ku. Selama ini konsenku adalah mengurus suami, mengasuh anak, dan menyelesaikan disertasi, dan selebihnya pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh pembantu. Peran PRT ini sangat mendukung dalam aktivitas ku sebagai ibu rumah tangga dan sebagai mahasiswa, karena saat ini saya tidak mengambil jam mengajar karena konsen dalam mengasuh anak dan penyelesaian kuliah. Bukan hal yang mudah untuk mencari PRT seperti pembantu yang sebelumnya.
Sekarang saya menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga murni tanpa pembantu, dan dengan ini saya banyak belajar dan menyadari peran pembantu bagi saya. Kami menjadi makin menghargai peran pembantu secara umum dan juga peran pembantu kami yang lalu. Seharusnya memang kita lebih menghargai dan tidak memandang rendah peran pembantu rumah tangga itu.

Rabu, 28 Mei 2008

BBM Naik ….. lalu bangsaku???

Keprihatinan sedang melanda Negara ku, Indonesia.
Bangsaku memang sedang diberi ujian yang cukup berat, dan membutuhkan keihklasan untuk menerima semua ini.
Ketika rakyat mengais-ngais tong sampah kebijakan untuk mendapatkan sisa nasi bungkus pejabat yang korupsi, dengan alasan naiknya harga minyak dunia maka harga BBM dinaikkan lebih dari 25%.
Terima atau tidak, hal itu tetap terjadi.
Lalu demo terjadi dimana-mana, wajah bangsaku berubah menjadi anarkhis. orang miskin tidak lagi terlihat lapar, tapi mereka telah masuk dalam keranda mayat yang diusung oleh mahasiswa dengan iringan api dari ban bekas yang terbakar dan nyanyian orasi reformasi yang mengutuk para pemangku Negara.
Inikah Negara yang sejak dulu menjadi puja-puja bangsa?
Inikah Negara, dengan pulau kelapa dan nyiur pantainya?
Inikah Negara dengan hamparan permadani hijau dan zamrud khatulistiwa?
Mahasiswa demo, jalan menjadi macet dan masyarakat kecil jadi terganggu.
Tarif angkutan umum minta naik dan masyarakat kecil berat membayar.
Harga sembako otomatis naik dan masyarakat kecil tidak sanggup membeli
Polisi bentrok dengan demonstran masyarakat kecil ketakutan
Siapa masyarakat kecil?
….masyarakat kecil adalah mahasiswa yang demo…..
…. masyarakat kecil adalah sopir angkot yang minta kenaikan tarif….
…. masyarakat kecil adalah pedagang sembako yang manaikkan harga jual…..
……dan masyarakat kecil adalah polisi yang bentrok dengan demonstran…..
Sungguh ironis sekali….
Kemanakah para negarawan?
Kemanakah para pemikir?
Kemanakah para politisi?
Kemanakah para pejabat Negara?

Senin, 05 Mei 2008

Puzzle, Sudoko, dan Otak bla…bla….

Emmpf.......
Ini sudah malam kesekian, pikiran saya sulit untuk diajak jernih.
Menyusun disertasi benar-benar menuntut konsentrasiku.
So....
Kalau bisa digambarkan, saat ini ide-ide yang ada dikepalaku bagaikan puzzle yang keping-kepingnya berhamburan di dendrit-dendrit otakku, belum lagi kalau beberapa keping puzzle itu ada yang nyasar ke batang otakku. Akibatnya myelin harus diproduksi cukup banyak agar engsel-engsel dendritku tidak berkarat.
Kabar baiknya adalah, saya sudah tahu gambar apa pada puzzle itu, sehingga kerja otak kananku kini agak berkurang.
Sekarang saya harus menyusun keping-keping puzzle itu biar lengkap dengan menggunakan secara maksimal neokorteks otakku. Tapi ternyata tidak semudah yang kusangka, karena menyusun puzzle itu tidak hanya dengan otak kiri, tapi juga otak kanan-ku. Sehingga seluruh neorunku seolah memberontak dan ingin memerdekakan diri dari kepalaku. Padahal sampai umur mendekati 29 tahun ini, saya dibesarkan dengan kecendrungan menggunakan otak kiri.
...tapi tak ada yang salah koq....
Untungnya juga saya mulai mengenal ‘sudoku’, permainan jepang yang cukup menghibur, sehingga kini sistem limbik otakku mendapat siraman kesejukan.
Dan sepertinya, saya butuh gizi yang lebih untuk dapat menyusui bayiku, merawat anak-anakku, dan untuk mengasah otakku.
Ya Allah, semoga saya dapat melalui ini semua.
Amin

Jumat, 02 Mei 2008

Disertasi dan Begadang

Malam ini, seperti malam sebelumnya...
Harus begadang untuk menyelesaikan proposal disertasi, agar bisa menyelesaikan kuliah. Banyak sekali yang harus kupelajari, dan hanya malamlah waktu yang membuatku cukup bebas untuk menuangkan pikiran-pikiranku.
Namun beberapa malam ini, semua terasa agak sulit untuk menemukan benang merah tentang apa yang kupikirkan. Saya butuh untuk berdiskusi dengan teman-teman yang juga sedang mendalami ilmu yang sama denganku. Entahlah, apa ini disebut tergantung pada orang lain. Tapi saya benar-benar butuh verifikasi tentang apa yang saya pikirkan, karena kalau menghadap promotor tanpa penguasaan materi yang memadai, nanti dipikirnya kita tidak mampu. Saya agak takut pada pelabelan tertentu atas saya, walau itu kesannya bagus.
Saya belajar untuk memenuhi kebutuhan karena kekurangan yang kumiliki. Tapi itu lebih sulit, karena dilain pihak saya juga harus konsen ke materi yang sedang saya kembangkan.
Rasanya ingin refresh sedikit, tapi waktu berjalan terus dan seakan tidak ingin kompromi dengan 'sekedar refresh-ku' itu.
Bagaimana pun, saya harus kuat agar bisa menyelesaikan studi ini.
Ya Allah, mohon bantu hamba-Mu ini....